Ada udang di balik e-Learning

26 05 2008

Salah satu tujuan dari e-learning yang saya kutip dari mas Romi adalah:http://agzi.files.wordpress.com/2008/06/elearning.jpg

e-Learning harus didesain utk dapat memberikan nilai tambah secara formal (karier, insentif, dsb) dan nonformal (ilmu, skill teknis, dsb) untuk pengguna (pembelajar, instruktur, admin)

Yang saya sedihkan, adanya pihak-pihak yang memanfaatkan kekuatan kata e-learning untuk mencapai tujuan selain tujuan e-learning. Dari mulai ISP, vendor, hingga foundation/ yayasan yang cukup berskala besar. Sehingga menjadikan perkembangan e-learning Indonesia menjadi setengah hati karena goalnya bukan e-learning. Lebih ke perhatian massa, award, popularitas dan angka hit/ penjualan produknya.

Mengikutkan e-learning sebagai salah satu service atau konten yang didapat apabila menggunakan produk/ servis memang tidak salah. Tetapi akan sangat disayangkan apabila tujuan mulia e-learning kalah dengan “tujuan mulia” marketing. Desain dan persiapan produk/ service mengalahkan desain dan kesiapan produk e-learning yang ditawarkan. Dapat terjadi kekecewaan pada customer.

Di Bubu awards, -salah satu award prestigius untuk masayarakat IT Indonesia- pun (yang sekarang entah apa yang terjadi pada situsnya), untuk edukasi hanya ada satu kategori (dan linknya pun keliru). Setelah webwalking ke situsnya, terlihat sangat miskin kontent e-learning, mungkin bukan ini sisi penilaiannya karena ketegorinya masuk ke edukasi, dan e-learning hanya secuil dari luasnya bahasan edukasi.

Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan e-learning Indonesia?





Tuhan Sembilan Senti

21 05 2008

Oleh: Taufiq Ismail

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak
merokok,

Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
di Mahkamah Agung yang bergaun toga merokok,
hansip-bintara-
perwira nongkrong merokok,
di perkebunan pemetik buah kopi merokok,
di perahu nelayan penjaring ikan merokok,
di pabrik petasan pemilik modalnya merokok,
di pekuburan sebelum masuk kubur orang merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im
sangat ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang
tak merokok,

Di balik pagar SMU murid-murid mencuri-curi merokok,
di ruang kepala sekolah ada guru merokok,
di kampus mahasiswa merokok,
di ruang kuliah dosen merokok,
di rapat POMG orang tua murid merokok,
di perpustakaan kecamatan ada siswa bertanya
apakah ada buku tuntunan cara merokok,

Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk
orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok,
sampai kabarnya kuda andong minta diajari pula
merokok,

Negeri kita ini sungguh nirwana
kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,

Bercakap-cakap kita jarak setengah meter
tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun
menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut
dan hidungnya mirip asbak rokok,

Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang
bergumul
saling menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya
mengepulkan asap rokok di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya
ketimbang HIV-AIDS,

Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin
paling subur di dunia,
dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap
tembakau itu,
Bisa ketularan kena,

Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,

Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil,
pertandingan bulutangkis,
turnamen sepakbola
mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,

Di kamar kecil 12 meter kubik,
sambil ‘ek-’ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat
dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh,
dengan cueknya,
pakai dasi,
orang-orang goblok merokok,

Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na’im
sangat ramah bagi orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup
bagi orang yang tak merokok,

Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru,
diam-diam menguasai kita,

Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh,
duduk sejumlah ulama terhormat merujuk
kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka
terselip berhala-berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
ke mana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,

Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka
memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda
yang terbanyak kelompok ashabul yamiin
dan yang sedikit golongan ashabus syimaal?

Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh
itu.
Mamnu’ut tadkhiin, ya ustadz.
Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii’atun bi mukayyafi al
hawwa’i.
Kalau tak tahan,
Di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum.

Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr.
Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi).
Daging khinzir diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok.
Patutnya rokok diapakan?

Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz.
Wa yuharrimu ‘alayhimul khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang,
karena pada zaman Rasulullah dahulu,
sudah ada alkohol,
sudah ada babi,
tapi belum ada rokok.

Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
Lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan,
jangan,

Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar
perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang
kepalanya berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir.
Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap,
dan ada yang mulai terbatuk-batuk,

Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati
karena penyakit rokok.
Korban penyakit rokok
lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir,
gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,

Pada saat sajak ini dibacakan,
berhala-berhala kecil itu sangat berkuasa di negara
kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,

Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku’ dan sujud untuk taqarrub pada
tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana
dalam nikmat lewat upacara menyalakan api
dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,

Rabbana,
beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.





Kenapa kita tidak boleh berbohong?

1 05 2008

Free Image Hosting at www.ImageShack.us Berbohong (lie), adalah suatu sikap yang memalsukan, baik keadaan atau informasi dengan harapan yang mendengar kebohongan untuk percaya dan yang berbohong biasanya diuntungkan. Kadang kita jumpai juga kebohongan yang sama sekali tidak menguntungkan siapa-siapa. Lalu kenapa berbohong?

Banyak alasan yang di cari seseorang saat dia melakukan kebohongan. Namun sebagian besar adalah untuk menutupi fakta atau mengarahkan pemikiran orang (sebenarnya ini lebih pantas disebut dengan istilah menghasut), selain itu alasan lainnya adalah karena kepepet (waktu, keadaan, uang, dan sebagainya).

Berbohong, bisa jadi baik, namun sebagian besar penggunaannya untuk hal yang kurang baik. Menurut muslimabipraya, anak kecil memiliki kencederungan berbohong dengan alasan-alasan tertentu.

Tetapi kadang alasan milik orang dewasa lebih tidak masuk akal dibanding alasan-alasan anak kecil. Membohongi polisi agar dapat SIM, membohongi apoteker/ dokter agar mendapatkan obat dengan harga murah, berbohong agar dagangannya laku, berbohong kalau dirinya adalah orang baik untuk menipu, berbohong bahwa dirinya adalah tentara ( wtf ❗ ) dan sebagainya.

Kenapa kita tidak boleh berbohong?

Anak kesalahan sebagai turunan dari dari berbohong sangat banyak. Penipuan, pemalsuan, penggelapan, korupsi, markup, konspirasi. Jika yang dibohongi tidak suka bahkan bisa berujung pada, pembalasan, penganiayaan, pengancaman hingga pembunuhan. Kenapa? karena jika seseorang dibohongi, umumnya merasa kesal, jengkel hingga marah.

Banyak cerita yang menggambarkan kerugian jika berbohong, yang paling dikenal adalah dongeng pinokio dan dongeng gembala kambing dan serigala. Alasan utama kenapa kita sebisa mungkin untuk tidak berbohong adalah

“Karena berbohong adalah kesalahan awal dengan tiada akhirnya”

Free Image Hosting at www.ImageShack.us

Begini, katakanlah kita berbohong tentang suatu hal dengan menggunakan alasan-alasan tertentu, menggunakan fakta-fakta palsu. Disaat yang sama kita harus berbohong lagi untuk mendukung kebohongan kita, dan kebohongan baru yang baru dibuat juga harus didukung oleh kebohongan lagi, daaaaan begitu seterusnya. Anda akan selalu menutupi kebohongan dengan kebohongan. Dan hidung pinokio pun semakin panjang.

Jika anda ketahuan berbohong, anda akan merasa malu karena ucapan anda tidak sejalan dengan kenyataan dan kemampuan anda sebenarnya. Anda akan kehilangan kepercayaan, yang akan sangat sulit, bahkan jauh lebih sulit mengembalikan kepercayaan orang yang telah dibohongi ketimbang anda memupuk kepercayaan relasi yang baru saja anda kenal, karena mereka akan lebih menjaga jarak, waspada dan penuh curiga terhadap anda.

Kapan kita boleh berbohong?

Diriwayatkan dari Ummu Kultsum, bahwa ia berkata: “Saya tidak pernah mendengar Rasulullah Saw memberi kelonggaran berdusta kecuali dalam 3 hal: [1] Orang yang berbicara dengan maksud hendak mendamaikan, [2] orang yang berbicara bohong dalam peperangan dan [3] suami yang berbicara dengan istrinya serta istri yang berbicara dengan suaminya (mengharapkan kebaikan dan keselamatan atau keharmonisan rumah tangga)”. (HR. Muslim)

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman , kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman , akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar” (QS: Al-Nahl 16:106)

Apakah boleh berbohong untuk kebaikan? Kebaikan apa? kebaikan siapa? apa resikonya jika tidak berbohong dibandingkan dengan berbohong? Melihat hadis diatas, cukup jelas batasan boleh berbohong dalam hal apa saja.

Dan itupun dalam keadaaan tertentu saja, tidak setiap saat dalam perang kita harus berbohong, dan tentu saja tidak setiap saat suami istri berbicara adalah dusta. Keadaan yang dimaksud adalah jika tidak ada jalain lain untuk hasil yang baik untuk kedua pihak selain berdusta maka keadaan tersebut membolehkan untuk berbohong, keadaan ini juga populer disebut sebagai white lie,

Bagaimana menghindari berbohong?

Menghindari situasi yang memaksa anda untuk berbohong lebih mudah daripada memperbaiki kesalahan yang akan anda buat dengan berbohong.

Jangan malu untuk menyatakan anda tidak mampu melakukan/ memenuhi sesuatu, ketimbang anda memberi pengharapan besar kepada lawan bicara tetapi sebenarnya anda berbohong dan tidak yakin akan apa yang anda katakan.

Apakah dengan jujur segala sesuatunya akan menjadi lebih buruk? saya kira tidak. Di awalnya mungkin iya, tetapi rasa melepaskan beban dari pikiran dan hati anda tidak ternilai rasanya, dan nikmatnya, yakinlah anda akan jauh lebih tenang jika anda jujur.

Arahkan pembicaraan dengan menampilkan fakta-fakta yang benar sehingga terhindar dari topik dimana anda harus berbohong.

Biasakan berkata jujur. Anda akan menjadi orang yang dipercaya, dan kepercayaan akan membawa relasi, relasi insya ﷲ membawa rejeki. Gelar pertama Rasulullah bukan Sarjana Teknik, tapi Al-Amin, orang yang bisa dipercaya. Bukankah tujuan hidup kita di dunia hanyalah mencontoh tindakan Uswatun hasanah kita, Rasulullah s. a. w.

It is hard to believe that a man is telling the truth when you know that you would lie if you were in his place. ~Henry Louis Mencken, A Little Book in C Major, 1916

If you tell the truth you don’t have to remember anything. ~Mark Twain

Honesty is the first chapter of the book of wisdom. ~Thomas Jefferson