17 04 2015

Ketika kau menatap pada cermin, mendapati kulitmu tak seputih shinta, rambutmu gimbal, tidak funky, kata-kata mu baku seperti majalah Intisari. Kau mungkin bertanya, adakah yang suka padaku? tidak bisa main musik, introvert, kutu buku, dan yang paling parah, kau tidak pernah bisa berhadapan dengan lawan jenis tanpa sahabat terbaikmu, grogi. (bukan pedangdut itu)

Akhirnya kau berjalan menyusuri hidup, sendiri, dan hanya menjadi pemerhati sambil tetap menekuni keseharian dengan buku, komputer, dan teman-teman.

Bukan hal yang jarang, saat seseorang berkata tidak, langsung, tidak langsung, dengan cara yang gila ataupun sederhana. Setiap mereka berkata “tidak, tidak denganmu” saya selalu tersenyum, kenapa? Tuhan mempunyai cara yang unik yang saya paham benar. Dia selalu memberikan yang terbaik. Dan celakanya, saya tidak pernah ragu akan itu. Kenapa celaka? karena bagi beberapa orang mungkin itu aneh, gila, sinting, mungkin ditambah sedikit koprol saya akan langsung digiring ke panti jiwa. Setiap kata tidak, menyadarkanku bahwa diluar sana saya milik seseorang yang lebih baik dari mereka yang berkata tidak itu, siapa? dimana? kenapa? saya tidak tahu. Tanyakan pada Tuhan. Setiap pertanyaan saya selalu bertanya pada Tuhan, dan dengan cara dan ketentuan yang disukai oleh-Nya tentunya, dan jawaban pasti saya terima dengan cara nya masing-masing, cepat, lambat, atau menjawab lagi dengan pertanyaan yang dapat membuat saya berfikir kembali tentang pertanyaan saya sebelumnya.

Saat kau menemukan sebuah pesan di jejaring sosial, ditujukan kepadamu, bukan spam, bukan salah orang, bertanya apakah saya pernah satu sekolah dasar dengannya, dan itu dari perempuan. Lalau kau membalas pesan itu. Dan pesan-pesan lainnya yang datang berikutnya. Dan sampai pada saat kita harus bertemu secara langsung. oookay.. stop dulu.. ingat teman saya yang bukan pedangdut tadi? how you can manage it?

Ajaibnya, kami bertemu. Kulitnya langsat, bukan putih pucat seperti bubur pulp yang justru banyak diiklankan di televisi. Rambutnya panjang, tidak berkumis, tentu saja karena dia perempuan. Semuanya natural saja. Sampai kami akhirnya “jadian” tanggal 22 Oktober 2005. Sekian lama kita berkenalan, semakin kenal dan semakin nyaman. Banyak yang sudah dilalui. menelusuri hobi masing-masing yang ternyata banyak sama nya. Dan selalu belajar

No one falls in love by choice, it is by chance.
No one stays in love by chance, it is by work.
No one falls out love by chance, it is by choice.


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: