Life with HP-ness

2 12 2011

Saat membaca tentang kompetisi menulis dari HP ini, aku langsung teringat printerku. HP Deskjet 3920.

Perkenalan ku dengan HP adalah sejak aku kuliah, tugas-tugas sudah menuntut dalam bentuk hardcopy yang di print, akhirnya aku mencari printer yang cukup tangguh untuk menghadapi tugas-tugas dari dosen. Tanya sana-tanya sini akhirnya pilihanku jatuh ke HP Deskjet 3920. HP D1360 Kenapa…?

  1. Murah! Diantara printer-printer yang ada saat itu HP Deskjet series termasuk yang termurah; Maklum, mahasiswa.. 😀
  2. Eits jangan salah. Aku termasuk orang yang banyak pertimbangan sebelum membeli barang. 3920 telah kubaca review-reviewnya dari beberapa tabloid PC ternama dan rata-rata memberikan empat dari 5 bintang untuk printer ini, bahkan beberapa menobatkannya sebagai recommended printer.
  3. Bentuknya mungil, cocok dan senada dengan kamarku yang juga mungil (beberapa orang bilang sempit (-__- !) )
  4. Simple! Siapa yang suka yang ribet-ribet? Di D1360 hanya ada SATU TOMBOL! dan saat paper traynya dilipat, lebih mirip seperti bantal jepang ketimbang printer (^_^)v, dan koneksi USB, tinggal colok, pakai!

Ketiduran di printer -__-!
Benar saja, ketiduran di printer -__-!
ketiduran..
berasa bantal jepang kali ya -__-!

Dengan hasil dari menjadi asisten di Lab, alhamdulillah printer idaman itu dapat ku bawa ke rumah.

Setelah menggunakannya, semakin banyak hal yang aku jagokan dari printer ini

  1. Cepat. Kecepatan printnya ruarr biasa.. Jangan heran kalau di tempat sewa komputer banyak yang pakai printer mungil ini
  2. Mudah perawatannya. Headclean nya bagus, bikin head awet, dan harga catridge nya terjangkau
  3. Bisa diandalkan. Ini sangat saya rasakan saat aku menyusun tugas akhir saya. Beberapa kali revisi, cetak formulir ini-itu, mencetak buku tugas akhir yang sangat tebal, tinggal klik print, and let HP do the rest, ngga pake acara paper jam segala. Sehingga waktu saya bisa sangat optimal.
  4. Hasil cetak terbaik di kelas nya. Aku gunakan 3920 tidak hanya untuk teks hitam putih diatas kertas, tapi sudah saya coba di kertas transfer/ sablon, cover CD, label CD, karton, sticker, glossy paper, photo paper. Hasilnya wow!  Tidak mengecewakan.

Itulah, 7 wonders of HP yang aku alami. Telah habiskan ber-rim-rim kertas pun,  printer HP 3920 ku masih bebas kendala. Dan bahkan setelah kuwariskan ke adik-adikku.

Yang paling berkesan saat menggunakan  D3920 adalah ketika aku menyusun Proyek Akhir (PA) ku. Buku PA-ku termasuk tebal diantara buku PA umumnya, karena lampirannya sangat banyak, hingga mengalahkan isi buku yang non-lampiran. Tetapi bukan itu yang membuatnya berkesan. PA ku terpilih menjadi PA terbaik untuk periode wisuda saat itu (Semester genap tahun 2005). Tak bisa kubayangkan PA ku tanpa bantuan HP D3920. Terima kasih HP, tanpa 3920, PA ku takkan se-hebat itu.

HP Deskjet 3920, bring your life to HP-ness.





Mini is the new giant

2 12 2011

First encounter

Pertemuan pertama dengan si mungil ini berawal ketika aku dan beberapa teman memiliki ide untuk membuat aplikasi pemesanan untuk di resto/ cafe. Aplikasi yang akan dibuat cukup kompleks, ada aplikasi database, web server, aplikasi desktop, dan aplikasi mobile di smartphone. Termasuk editor, testing tols  dan runtime environment-nya yang berbeda-beda untuk masing-masing platform. Bayangkan, software sebanyak itu kadang harus berjalan berbarengan! Dan kebetulan pilot project nya berada di kota Solo, cukup jauh dari domisili kami di Bandung.
Untuk memudahkan mobilitas, sekaligus pengadaan peralatan terkait pekerjaan, kami membeli PC server, beberapa smartphone, LCD, dan lain sebagainya, termasuk HP Mini  110-1000 warna putih. Pada awalnya Si Putih, begitu kami menyebut netbook ini,  hanya digunakan untuk mobilitas. Presentasi, kirim dokumen, internetan untuk mencari-cari bahan riset.
Pada awal pekerjaan, aplikasi tersebut diinstall di PC server. Saat testing, kami kekurangan PC untuk testing. Karena di lapangan nanti, aplikasi akan diakses oleh beberapa PC sekaligus. Sedangkan budget sudah tidak mencukupi untuk pengandaan PC lagi. “install di Si Putih aja!” celetuk salah satu temanku. Whaat!?! aplikasi segitu banyak diinstall di netbook? pikirku. Tidak ada pilihan lain, selain harus dicoba, setengah tidak yakin karena perbedaan spek yang cukup jauh antara server dan netbook.
Setelah terinstall semuanya Si Putih akan bertindak sebagai server, dan PC server akan bertindak sebagai client. Dan testing aplikasi pun dimulai. Dan hasilnya lebih dari yang diharapkan! Aplikasi berjalan lancar, dan tidak ada masalah. Masalah hanya muncul di setting jaringan WiFi dengan smartphone (T_T).
Singkat cerita, aplikasi ini selesai dengan sukses.

The inventing Giant

Setelah project ini selesai, Si Putih masih tetap bekerja untuk beberapa project hebat lainnya. Bahkan untuk presentasi Tugas Akhir Sarjana, Si Putih bertindak sebagai bintang utama. Menulis skripsi, internetan, hingga deploy aplikasi Tugas Akhir menggunakan Si Putih, TANPA MASALAH! Dibawa ke bandara, TANPA KHAWATIR, karena Si Putih dilengkapi Windows XP Home Edition Service Pack 3.0 ORIGINAL! Bebas khawatir ada razia dari pihak manapun! [^_^]v
Selanjutnya, Si Putih (sampai saat ini) masih mengerjakan beberapa permintaan pembuatan software. Mulai dari kios informasi Narkotika kerjasama dengan Badan Narkotika negara kita tercinta dan operator seluler terkenal.
Which is, kios ini adalah kios informasi + ada kuisnya. Pengunjung bisa bermain, mengerjakan kuis, dan mendapatkan beberapa macam hadiah tergantung dari nilai kuis yang didapatkan. Semuanya kami bangun dari nol, badan kios dari baja, LED display, mikrokontroller, aplikasi, semuanya 100% buatan anak negeri! dan saya rasa belum ada mesin seperti ini di Indonesia. 🙂

Pekerjaan lainnya, adalah membuat display informasi untuk di gunakan di 99 masjid raya se-Indonesia. Saat peluncuran aplikasi ini, bertepatan dengan menjelang bulan Ramadhan, dihadiri langsung oleh Menkominfo, bapak Tifatul Sembiring beserta jajaran direksi Operator, dan hadir ustad Yusuf Mansyur. Wah, betapa bangga nya saya kala itu. Si putih juga pernah mengerjakan aplikasi reporting untuk keperluan inventory BTS operator hanya dalam waktu satu malam! Semuanya selsai oleh si putih yang mungil ini. Fisik mungil kemampuan stabil.

It’s a PC

Saya dan Si Putih kian intim. Intim secara personal! it’s true!

Si Putih saya gunakan untuk mendesain undangan pernikahan, membuat ceklist, dan seabrek keperluan mendekati hari terpenting di kehidupanku. Si Putih kini bukan sekedar netbook, tapi sudah menjelma menjadi PC, Personal Companion.

Graffiti di cover si putih

Kini aku bekerja sebagai dosen di sebuah politeknik di Bandung. Si Putih tetap setia membantu mempersiapkan materi kuliah, mengajar, menyusun nilai, rapat, dan kegiatan lainnya. Dinyalakan seharian ngga ada masalah. Jika harus keluar kota, Si Putih selalu menghiburku di perjalanan, memainkan musik, film kualitas HD 480p, browsing, mencicil membaca koleksi ebook, dayatahan baterainya sangat memuaskan.

Si Putih tidak hanya membuatku menjadi lebih produktif, mobile, tapi juga gaya! Desain si putih sangat aku sukai. Putih dengan grafiti yang wahh deh pokoknya.. bikin saya jadi dosen paling keren ^_^

Si dosen dan si putih

Si Putih telah menjadi jembatan antara ide dan realisasi. Si Putih juga telah menjadi bagian dari segala achievement yang aku dapatkan dari pekerjaan-pekerjaan. Walau bukan dalam bentuk piala dan piagam, beberapa achievement itu tidak dapat dinilai dengan uang. Si Putih telah banyak membantu, bukan hanya saya, tim terkait pekerjaan,  mahasiswa-mahasisawa yang saya ajar pun terbantu. Ini ceritaku dengan HP mini-ku, Si Putih. Terima kasih telah membaca tulisan sederhana ini. Seluruh tulisan ini ditulis menggunakan Si Putih.





Web atau tidak web

24 09 2008

Dapat forward-an email dari salah satu dedengkot perusahaan IT yang banyak bergerak di bahasa jawa milik sistem kecil matahari.

saya quote kan saja biar blog ini kelihatan banyak 😛

Lama-lama saya bergumam.. ‘capek deeh..’, ketika sudah sering
pada beberapa kesempatan mendengarkan presentasi orang tentang
sistem aplikasi untuk jaringan komputer, maka sistem aplikasinya
katanya harus berbasiskan web. Terutama pada komunitas e-government
seperti pada tender-tender untuk sistem aplikasi di institusi
pemerintahan; baik pada KAK (kerangka acuan kerja) maupun pada
penjelasan pekerjaan (aanwijzing), panitia lelang menyatakan bahwa
pengguna jasa/barang ingin sistem aplikasi berbasiskan web agar
bisa dipakai secara multiuser dan sistem jaringan.

Awalnya saya selalu berusaha menerangkan bahwa aplikasi berbasis
web bukan satu-satunya solusi untuk menghasilkan sistem aplikasi
jaringan. Berbagai cara saya coba ilustrasikan seperti: “anda
pernah pakai Yahoo Messenger? Nah, itu kan bukan aplikasi dengan
web browser, tapi kan bisa untuk komunikasi sistem jaringan”.
Jadi sistem aplikasi lainpun bisa dibuat untuk jaringan tapi tidak
berbasis web, ya seperti YM itu tadi.

Tapi ya capek deh. Entah siapa yang memulai sosialisasi bahwa untuk
solusi sistem aplikasi jaringan ya harus berbasis web. Entah yang
menerima sosialisasi yang wawasannya memang masih kurang atau memang
yang memberi sosialisasi memang hanya seperti itu pemahamannya.

Satu-satunya keuntungan aplikasi berbasis web adalah tidak harus
melakukan instalasi pada sisi komputer klien. Sedangkan aplikasi
jaringan non web harus ada instalasi di sisi klien. Ini bisa suatu
keuntungan besar jika sistemnya tersebar pada lokasi yang banyak dan
berjauhan (antar kota, antar pulau, antar negara). Karena kadang
untuk instalasi memang menuntut skill yang mencukupi.

Tetapi aplikasi web hanya cocok untuk aplikasi yang tidak menuntut
banyak transaksi yang seringkali menggunakan form-form yang cukup
kompleks. Gaya HTTP yang menggunakan ‘post’ dan ‘get’ menuntut
banyak koneksi dengan server sekalipun hanya untuk job yang mudah
seperti menjumlah 2+3. Jika aplikasi web digunakan untuk membangun
aplikasi yang melakukan banyak transaksi seperti misalnya pada
aplikasi produksi, keuangan dan sistem operasional lainnya maka
akan terasa bahwa performa sistem aplikasi web jauh berada di bawah
performa sistem aplikasi jaringan desktop yang bisa mengolah transaksi
secara lokal dan hanya perlu mengirim hasil akhir ke server. Aplikasi
berbasis web hanya cocok untuk aplikasi yang menampilkan informasi data
atau yang menuntut sedikit transaksi data.

Oh sekarang tidak bergitu lagi setelah ada teknologi web 2.0 menuju
teknologi web 3.0. Teknologi seperti Ajax memberikan solusi bagi
aplikasi berbasis web sehingga bisa melakukan transaksi lokal seperti
aplikasi desktop. Tapi sayangnya hingga sekarang teknologi tersebut
belum betul-betul matang dan mencapai standar yang akseptabel pada
seluruh aplikasi browser. Pada kenyataannya masih sering bahwa
aplikasi web dinamis tersebut menuntut ‘Firefox versi xx’ atau
‘Internet Explorer versi xx’. Yang pada akhirnya tetap menuntut
instalasi pada sisi komputer klien untuk mendapatkan jenis dan versi
aplikasi browser yang tepat. Selain itu komponen untuk membangun
common control yang biasa ada pada desktop juga pada kenyataanya
sering masih terasa berat untuk dibangun pada aplikasi berbasis web,
apalagi jika diiringi representasi data yang cukup besar pada
common control tersebut seringkali performa aplikasi web jeblok.

Alhasil. Tulisan saya tidak untuk mendeklarasikan bahwa sistem aplikasi
berbasis web lebih buruk dari sistem aplikasi jaringan desktop.
Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Memilih sistem aplikasi
untuk keperluan yang tepat akan menghasilkan sistem aplikasi dengan
performa dan utilitas yang tinggi. Tapi saya merasa heran
bahwa kalangan masyarakat IT kita seakan hanya mengenal aplikasi web
sebagai satu-satunya solusi untuk sistem aplikasi jaringan. Apakah ini
menunjukan bahwa kualitas para developer sistem aplikasi kita memang
hanya menguasai pemrograman dengan HTTP dan bermain-main dengan port 80?
Apakah ini hasil dari pendidikan IT yang instant di berbagai lembaga
pendidikan IT? Para sistem developer dahulu kala mungkin sekarang suka
bernostalgia ketika dulu masih sering memprogram dengan teknik socket
programming dan RPC. Sekarang toh sudah dipermudah dengan lahirnya
berbagai protokol dengan tingkat abstraksi yang lebih tinggi seperti
DCOM, Java RMI, IIOP dan protokol network programming lainnya (ya
termasuk HTTP yang di dalamnya memang yang paling mudah).

Wallahu’alam

Febi

Alhasil ini memancing pendapat kami untuk angkat bicara. Web atau tidak web, mana kiblat mu.

Bung Rizky, software arsitek kami berpendapat

mengenai permasalahan MITOS/ISU/GOSIP INFLEKSIBILITAS aplikasi desktop dalam hal melakukan update pasca deployment, misal klo ada perubahan aplikasi musti menyebarkan ulang paket instalasi ke semua client (klo web kan tinggal upload ke host-server dan semua client otomatis akan keupdate) — menurut gw juga gag tepat, karna gw udah nemu solusinya utk itu..

gw juga keluhkan masalah yg (kalo di desktop itu) SANGAT-SANGAT-SANGAT-SANGAT-STANDAR sekali sedangkan di web itu bener2 butuh skill dan pengalaman coding yg expert. wewww…

Contoh kasus (yg sedang hangat2nya di ruang kerja gw nih) :
1. spin button
2. transaction-safe query
3. upload/browse
4. editable grid

dan gw belum sodorkan tema ‘dynamic chart/graph reporting’, Pivot Query, shortcut, print & print preview, sub-report, ato interaksi dengan device (yg kalo di desktop itu tinggal semudah drag-drop sesuatu dari component pallete)

masalah utama aplikasi web atau desktop itu sebenarnya terletak di PLATFORM (dimana web itu termasuk platform independen, sedangkan desktop = platform dependen –> termasuk Flex, Java, .NET/Mono yg “katanya” multiplatform itu sebenarnya platform dependen jg — karna mereka berjalan di atas virtual machine mereka sendiri)

nah, klo utk masalah ini, Aplikasi Web menang telak.

Jadi, pilih mana? desktop ato web ?
jujur, pertanyaan ini udah berkecamuk di hati gw sejak 4 tahun yg lalu.
dan sampai sekarang, gw masih blom bs temukan jawaban pastinya… ^_^

“Apakah ini hasil dari pendidikan IT yang instant di berbagai lembaga pendidikan IT?”

Ini pun sempat membuat saya sempat ragu pada awalnya, apakah akan memperdalam ilmu di Web programming karena munculnya teknologi-teknologi baru seperti Ruby dan FLEX. Sempat terpikir, stop learning PHP! and focus to new technology. Sama halnya bapak ini juga pernah bertanya demikian.

Teknologi tidak akan ada habisnya karena ini buah karya pikiran manusia, dengan keunggulan dan kelemahannya masing-masing sebagai trade-off nya, dan masing-masing komunitas bahasa dengan “agama” nya masing-masing.

Beberapa Plus nya desktop app menurut pendapat pribadi:

  • Tren desktop tidak secepat trend di web. Ada lebihnya ada kelemahannya.
  • User lebih bisa look n feel, walau ini mulai diadopsi oleh web.
  • Interaksi dengan device
  • Siklus yang lama (terkait poin 1)

Minusnya

  • Very hard to debug when it has become binaries. Coba siapa yang bisa debug dengan cepat kaskus salah akses memory address, bentrok dengan program lain, tidak kompatibelnya library.
  • Propietary, walau ada yang opensource, namun dominasinya masih kalah JAUH sama propietary
  • Karena propietary nya, kadang pembangunan aplikasi desktop disusupi muatan politis dan ekonomi yang bikin (at least saya) jengah!

Pergerakan teknologi pun mulai terlihat, voice over IP, TV over IP, IPTV (beda sama yg TV over IP lho), Mobile IP, meyakinkan saya bahwa, “the future still promising” di web technology. Desktop bagaimana? Arahnya desktop pun makin menyokong keperluan dari “the great collaboration era” ini.

Apapun teknologinya, portnya tetap : 80





Google Chrome vs Firefox

4 09 2008

Kemarin, Google meluncurkan produk baru mereka, sebuah browser bernama  Chrome. Bagi anda yang mungkin tidak sempat membaca bukunya komiknya tentang apa dan bagaiman Google Chrome ini,

saya coba simpulkan dan saya akan bandingkan dengan browser juara lainnya, Mozilla Firefox3.

Walau Google Chrome masih beta, namun tidak menyurutkan minat para internet addict untuk menjajal program karya terbaik perusahaan search engine ini. Termasuk saya 😀 .

Anda akan merasa sangat berbeda jika menggunakan Google Chrome saat browsing. Area pandang yang sangat luas, pas untuk mata kita, desain minimalis khas google dan menu, loh mana menunya ❓ Tidak ada teks menu ❗

Jangan tertipu dengan ukuran installer yang hanya 500-an kB, itu hanya starter nya, anda tetap diwajibkan mendownload melalui program starter tersebut. Fitur-fitur terbaik Chrome adalah:

  • Single Threaded Tab. Mungkin anda pernah mengalami ketika tab browser anda membuat browser menjadi crash ❓ Goggle punya jawabannya ❗ Mereka membuat arsitektur tab sebagai single thread, seolah-olah setiap tab adalah suatu individual broser, efeknya ketika salah satu tab tidak bekerja, tinggal meng enyahkan tab tersebut tanpa tab lain harus menjadi tumbal nya. Google juga menyertakan “task manager” tersendiri untuk menangani tab-tabnya. Anda dapat mengatur tag dengan drag n drop, mencopot tag menjadi sebuah window baru, menggabungkan tab dengan window Chrome lain. Luar biasa ❗
  • Boosted Javascript Engine. Javascript kini umum digunakan, terutama untuk web-web dengan komponen AJAX. Tapi ada kalanya javascript menjadi bumerang untuk browser dengan menjadi tersangka utama crash nya sebuah browser. Google menggunakan T8, sebuah grup riset yang meneliti tentang javascript, terutama masalah peningkatan performa javascript. Masalah utama pada javascript adalah alokasi dan fragmentasi memori. Grup T8 telah berhasil menciptakan mekanisme khusus agar memori yang terfragmen dapat dibuang dengan baik dan performa dapat ditingkatkan. Hasilnya diimplementasikan di dalam Chrome. Dibantu dengan arsitektur single threaded tab, ketika suatu tab ditutup, seluruh tetek-bengek tab tersebut pun ikut terbuang. Seperti: alokasi memori untuk javascript, plugins, dll. Mengakibatkan memory usage kita juga akan ikut turun.
  • Omni-bar. Sebenarnya, omni bar sudah dikenalkan oleh firefox3. Adalah sebuah address bar yang “pintar”. Address bar ini akan mencari ke dalam history dan bookmarks kita. Namun Google tidak berhenti dampai disitu. Akan ditampilkan juga website pertama dalam hasil pencarian mereka (I’m Feeling Lucky), hasil pencarian top 6, selain dua lainnya yang saya sebutkan sebelumnya.
  • Oneclick Bookmark, juga bukan fitur baru, namun perlu diakui, untuk masalah bookmark-mem bookmark Chrome masih tertinggal. Bookmark dapat dilakukan dengan hanya satu kali klik, namun kita akan sulit mengatur bookmark kita yang sudah ratusan. Manajemen bookmark’s toolbar nya pun masih kurang memuaskan.

Yang terbaik dari Mozilla Firefox:

  • Manajemen bookmark dan history firefox sangat baik, mudah digunakan dan lebih mendetail.
  • Kekuatan utama firefox adalah plugin dan themes. Jutaan pengguna firefox mungkin tidak memiliki firefox yang benar-benar sama satu dan lainnya. Ini urusan saya membutuhkan plugin ini dan saya suka theme ini sedang kamu tidak. Firefox bisa menujukkan karakter pengguna browser.
  • Kecepatan jelajah internet. Well, setidaknya ini yang saya rasakan. Mungkin ini lebih ke keadaan jaringan dan resource komputer masing-masing.
  • Popup blocker.
  • Detailed settings.
  • Web standards.

 

 Yang terburuk dari Firefox: 

  • Memory leak. Semakin lama anda menggunakan FF, maka alokasi memori anda semakin besar. Saya sendiri bahkan hingga menunjukkan angka 700-an MB pada process list task manager untuk satu aplikasi FF saja. Dan saat anda mengakses halaman dengan AJAX, CPU process anda bisa mendekati angka 100% dan saat itulah anda tersadar, browser anda membeku ❗ CRASH

Yang terbaik dari Chrome:

  • Performa Javascript, dan browser keseluruhan. Didukung arsitektur aplikasi yang baik, sehingga memory terjaga.
  • Tampilan yang sederhana, pandangan luas dan legaaaaa
  • Incognto window untuk browsing secara aman
  • Pemisahan plugins sebagai proses tersendiri, memungkinkan kita mematikan plugin tanpa menutup browser.

Yang buruk dari Chrome:

  • Bookmark. Manajemennya sangat sulit.
  • Addons. Nampaknya Google masih berfikir panjang tentang ini. Disatu sisi browser akan powerful dengan sendirinya karena disupport banyak aplikasi yang dibuat pihak ketiga, disisi lain performa mungkin akan menurun, karena addons memerlukan resource untuk digunakan.
  • Minim kustomisasi, tidak ada pilihan search engine seperti FF, tidak adanya theme juga sangat disayangkan.

Jagoan di film-film bisanya datang dan menang belakangan. Karena mereka mempunyai waktu untuk mempelajari kelemahan dan kelebihan musuh-musuhnya dankebanyakan berakhir dengan sang jagoan menang mutlak, kecuali film-film India, dimana sang jagoan menyerahkan diri ke polisi (how patriotic silly).

Ehemm…well, saat ini saya menggunakan FF dan Chrome secara bersamaan. Bagaimana dengan anda ❓ ada yang sudah mencoba ❓





Pilkada Bandung, sebuah pendapat anak teknik

12 08 2008

Kemarin (Minggu, 10/08/2008), Bandung mengadakan hajat demokrasi, pemilihan walikota bandung, menetukan siapa yang memimpin Bandung lima tahun kedepan. Saya sendiri, sebagai warganegara yang baik mengikutinya dengan sungguh-sungguh.

Bagaimana saya akan memilih salah satu dari mereka? saya kunjungi situs mereka (dasar geek).

Situs calon nomor 1, hingga saat ini masih up, cukup simple, namun kurang informatif. Saat melihat profil calon walikota, kita harus meng-klik 10 link untuk tahu siapa dan bagaimana Pak Dada Rosada. Dibuat menggunakan CMS Joomla.

Situs calon nomor 2, sangat disayangkan masih banyak broken link nya. seperti saat saya ingin melihat strategi dan program dan resume, saya dilarikan ke halaman index. Hmm kurang serius kah? padahal dari segi konten, Taufikurahman center (Taufikurahman media center kali ya) sudah bersusah payah membuat akun di beberapa situs jejaring sosial (multiply, wordpress, facebook, friendster, flickr, youtube), yang youtube, ternyata dilarikan ke index (lagi), yu mari. Ada yang terlewat, seharusnya punya akun di LinkedIn, jadi kita bisa tahu seberapa banyak relasi beliau, resume dan riwayat pekerjaannya, hihihihi.

Situs calon nomor 3. Satu-satunya dan pertama, calon independen maju untuk pilkada. Tidak seperti dua situs sebelumnya, untuk nama domain menggunakan nama keduanya, tidak hanya nama calon walikotanya saja, kesannya menenggelamkan tokoh cawalkot nya (karakter asinan). Desainnya simpel, dengan tipografi yang cukup jelas dibaca,tidak ada broken link (linknya tidak terlalu banyak). Kalau calon nomor 2 narsis, sibuk bercerita tentang dirinya, dan calon nomor satu tim media centernya lah yang narsis dan memproteksi alamat email dengan Javascript dengan alasan takut SPAM, calon nomor tiga blak-blakan menerima masukan dari siapa pun yang berkunjung ke websitenya. Ada yang tertarik “mencoba” ❓ hehehe. Tampak sia-sia karena websitenya terlihat seperti static page (file ekstensi .htm/ html), namun patut dicoba 😉 .

Seluruh situs menggunakan font Arial dengan resiko antara huruf  l (L kecil) dan I (i besar) akan terlihat sama, sama seperti blog saya ini 😛 . Padahal untuk informasi politik seperti ini ada baiknya tidak menimbulkan salah baca atau penalaran ganda yang dapat ditanggulangi dengan memilih font yang tepat.

Hmm…Kesimpulan saya..

Ketiga calon terkesan terburu-buru dalam membangun websitenya. Tidak ada yang eksists jauh sebelum pilkada. Kalau tidak broken link, informasinya tidak lengkap. Hmm apakah mereka akan mengerti bagaimana memajukan teknologi Bandung ❓

Anda memilih siapa ❓ Saya sudah punya plihan. Tenang.. nggak golput kok, tapi rahasia ya….





Meng-disable Smart Location Bar di Firefox 3

1 07 2008

Salah satu fitur baru dari Firefox3 adalah Smart Location Bar.

Cara kerjanya, location bar akan memunculkan seluruh website yang pernah kita kunjungi diurut berdasarkan yang paling akhir kita kunjungi yang mengandung kata yang kita ketikkan, baik di URL nya atau di title nya. Tidak hanya itu, location bar akan mencari juga di bookmarks kita, baik dari location, description dan tags nya.

Akan tetapi tidak semua orang suka akan fitur ini. Dan yang bikin ribetnya tidak ada menu untuk meng-disable nya.

Brikut cara men-disablenya untuk yang kurang senang dengan fitur ini

  1. di Location bar, ketikkan about:config, kemudian Enter.
    • Halaman peringatan dari about:config yang berisi “This might void your warranty!” akan muncul. Klik “I’ll be careful, I promise!“, untuk melanjutkan ke halaman about:config.
  2. Cari pada filter nya “browser.urlbar.maxRichResults“.
  3. Double klik setting “browser.urlbar.maxRichResults” dan masukkan -1 sebagai value nya.
  4. Tutup Firefox ( bisa melalui menu File Exit ).
  5. Buka Firefox kembali.

Hasilnya, tidak ada lagi smart location bar, hanya ada location bar, bahkan dari history tidak akan ter load. Nampaknya value pada “browser.urlbar.maxRichResults” adalah jumlah URL atau hasil pencarian yang akan di tampilkan di location bar, selain diisi -1, dapat anda isi sesuka hati anda, why not ❗

Selamat mencoba..

source: http://support.mozilla.com/en-US/kb/How+to+disable+the+Smart+Location+Bar





Demam Firefox 3

25 06 2008

Firefox 3

Firefox3, sejak pertama peluncurannya tanggal 17 Juni 2008 mendapat sambutan yang luar biasa, terutama dari komunitas opensource. Lebih dari 19 Juta download dari sejak Download day! Sangat luar biasa.

Saya sendiri ikut mendownload pada hari itu. Penasaran ingin menguji, sehandal apakah FF3 terutama untuk kebutuhan saya sebagai web developer!

Bagi yang juga penasaran, silahkan menaikkan angka hit Firefox dengan mengklik tautan ini.

Proses instalasi sangat mudah, bagi pengguna awam cukup, next, accept, dan next untuk menginstall.Setelah terinstal, firefox akan mencari versi firefox yang sudah terinstall sebelumnya dan akan mengimport seluruh informasi pada firefox sebelumnya, kebetulan saya menggunakan Firefox 2.0.14 dengan tambahan Addons

– Adblock Plus 0.7.5.5
– Bookmark Duplicate Detector 0.6.4
– CacheViewer 0.4.7.1
– CLEO 3.3.1
– CSSViewer 1.0.3
– DownloadHelper 3.0.4
– Event Spy 0.2.3
– Extension List Dumper 1.14.1
– Fasterfox 2.0.0
– FEBE 5.3.1
– Firebug 1.05
– Greasemonkey 0.8.20080609.0
– gui:config 0.3.6
– GUtil! 2.3.2
– Hide Tab Bar 0.2.2
– Html Validator 0.8.5.2
– IDM CC 2.0
– Image Toolbar 0.6.5
– Image Zoom 0.3.1
– KasKusMenu 2.3.1.4
– MeasureIt 0.3.8
– Minimize To Tray Enhancer 0.7.5.3
– MinimizeToTray 0.0.1.2006102615+
– Open Image In New Tab 1.0.2
– PDF Download 1.0.1.2
– Popup Resize 1.0
– qtl 11
– Regular Expressions Tester 1.1.3.3
– Save Complete 0.9b10
– Screen grab! 0.95
– Tab Mix Plus 0.3.6
– Undo Closed Tabs Button 3.0.3
– UnPlug 1.6.06
– Web Developer 1.1.6
– YSlow 0.9.5b2

banyak juga ya.. hehehe

Dan sekitar 60% addons yang saya install di FF2 tidak kompatibel di FF3.

– Bookmark Duplicate Detector 0.6.4
– CLEO 3.3.1
– Event Spy 0.2.3
– Fasterfox 2.0.0
– FEBE 5.3.1
– Firebug 1.05
– Hide Tab Bar 0.2.2
– IDM CC 2.0
– KasKusMenu 2.3.1.4
– MinimizeToTray 0.0.1.2006102615+
– Popup Resize 1.0- qtl 11
– Regular Expressions Tester 1.1.3.3
– Tab Mix Plus 0.3.6- UnPlug 1.6.06

Sangat disayangkan karena sebagian addons sangat saya perlukan dalam pekerjaan saya. Setelah saya coba beberapa hari menggunakan FF3 dari segi kecepatan, saya bisa bilang, mengagumkan ❗ kecepatan lebih stabil, download tidak jarang putus ditengah, javascript dan CSS sangat baik, bahkan terlalu baik, ini sebenarnya kurang bagus karena saat kita browsing menggunakan FF3, tampilan web terlihat rapi, namun saat menggunakan Opera dan IE (terutama), tampilannya berantakan ❗ (Microsuckft)

Masalah lain pada FF3 ❗ setiap saya menutup browser, CPU usage saya naik 100% dan memory nya terus naik. Bug ini juga sudah diterima oleh Custumer Support Mozzila. Namun belum ada solusi yang berarti. Ada yang berkomentar, ini dikarenakan kita membuka Gmail. hmm… Apakah ada sentimen diantara keduanya ❓