Web atau tidak web

24 09 2008

Dapat forward-an email dari salah satu dedengkot perusahaan IT yang banyak bergerak di bahasa jawa milik sistem kecil matahari.

saya quote kan saja biar blog ini kelihatan banyak 😛

Lama-lama saya bergumam.. ‘capek deeh..’, ketika sudah sering
pada beberapa kesempatan mendengarkan presentasi orang tentang
sistem aplikasi untuk jaringan komputer, maka sistem aplikasinya
katanya harus berbasiskan web. Terutama pada komunitas e-government
seperti pada tender-tender untuk sistem aplikasi di institusi
pemerintahan; baik pada KAK (kerangka acuan kerja) maupun pada
penjelasan pekerjaan (aanwijzing), panitia lelang menyatakan bahwa
pengguna jasa/barang ingin sistem aplikasi berbasiskan web agar
bisa dipakai secara multiuser dan sistem jaringan.

Awalnya saya selalu berusaha menerangkan bahwa aplikasi berbasis
web bukan satu-satunya solusi untuk menghasilkan sistem aplikasi
jaringan. Berbagai cara saya coba ilustrasikan seperti: “anda
pernah pakai Yahoo Messenger? Nah, itu kan bukan aplikasi dengan
web browser, tapi kan bisa untuk komunikasi sistem jaringan”.
Jadi sistem aplikasi lainpun bisa dibuat untuk jaringan tapi tidak
berbasis web, ya seperti YM itu tadi.

Tapi ya capek deh. Entah siapa yang memulai sosialisasi bahwa untuk
solusi sistem aplikasi jaringan ya harus berbasis web. Entah yang
menerima sosialisasi yang wawasannya memang masih kurang atau memang
yang memberi sosialisasi memang hanya seperti itu pemahamannya.

Satu-satunya keuntungan aplikasi berbasis web adalah tidak harus
melakukan instalasi pada sisi komputer klien. Sedangkan aplikasi
jaringan non web harus ada instalasi di sisi klien. Ini bisa suatu
keuntungan besar jika sistemnya tersebar pada lokasi yang banyak dan
berjauhan (antar kota, antar pulau, antar negara). Karena kadang
untuk instalasi memang menuntut skill yang mencukupi.

Tetapi aplikasi web hanya cocok untuk aplikasi yang tidak menuntut
banyak transaksi yang seringkali menggunakan form-form yang cukup
kompleks. Gaya HTTP yang menggunakan ‘post’ dan ‘get’ menuntut
banyak koneksi dengan server sekalipun hanya untuk job yang mudah
seperti menjumlah 2+3. Jika aplikasi web digunakan untuk membangun
aplikasi yang melakukan banyak transaksi seperti misalnya pada
aplikasi produksi, keuangan dan sistem operasional lainnya maka
akan terasa bahwa performa sistem aplikasi web jauh berada di bawah
performa sistem aplikasi jaringan desktop yang bisa mengolah transaksi
secara lokal dan hanya perlu mengirim hasil akhir ke server. Aplikasi
berbasis web hanya cocok untuk aplikasi yang menampilkan informasi data
atau yang menuntut sedikit transaksi data.

Oh sekarang tidak bergitu lagi setelah ada teknologi web 2.0 menuju
teknologi web 3.0. Teknologi seperti Ajax memberikan solusi bagi
aplikasi berbasis web sehingga bisa melakukan transaksi lokal seperti
aplikasi desktop. Tapi sayangnya hingga sekarang teknologi tersebut
belum betul-betul matang dan mencapai standar yang akseptabel pada
seluruh aplikasi browser. Pada kenyataannya masih sering bahwa
aplikasi web dinamis tersebut menuntut ‘Firefox versi xx’ atau
‘Internet Explorer versi xx’. Yang pada akhirnya tetap menuntut
instalasi pada sisi komputer klien untuk mendapatkan jenis dan versi
aplikasi browser yang tepat. Selain itu komponen untuk membangun
common control yang biasa ada pada desktop juga pada kenyataanya
sering masih terasa berat untuk dibangun pada aplikasi berbasis web,
apalagi jika diiringi representasi data yang cukup besar pada
common control tersebut seringkali performa aplikasi web jeblok.

Alhasil. Tulisan saya tidak untuk mendeklarasikan bahwa sistem aplikasi
berbasis web lebih buruk dari sistem aplikasi jaringan desktop.
Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Memilih sistem aplikasi
untuk keperluan yang tepat akan menghasilkan sistem aplikasi dengan
performa dan utilitas yang tinggi. Tapi saya merasa heran
bahwa kalangan masyarakat IT kita seakan hanya mengenal aplikasi web
sebagai satu-satunya solusi untuk sistem aplikasi jaringan. Apakah ini
menunjukan bahwa kualitas para developer sistem aplikasi kita memang
hanya menguasai pemrograman dengan HTTP dan bermain-main dengan port 80?
Apakah ini hasil dari pendidikan IT yang instant di berbagai lembaga
pendidikan IT? Para sistem developer dahulu kala mungkin sekarang suka
bernostalgia ketika dulu masih sering memprogram dengan teknik socket
programming dan RPC. Sekarang toh sudah dipermudah dengan lahirnya
berbagai protokol dengan tingkat abstraksi yang lebih tinggi seperti
DCOM, Java RMI, IIOP dan protokol network programming lainnya (ya
termasuk HTTP yang di dalamnya memang yang paling mudah).

Wallahu’alam

Febi

Alhasil ini memancing pendapat kami untuk angkat bicara. Web atau tidak web, mana kiblat mu.

Bung Rizky, software arsitek kami berpendapat

mengenai permasalahan MITOS/ISU/GOSIP INFLEKSIBILITAS aplikasi desktop dalam hal melakukan update pasca deployment, misal klo ada perubahan aplikasi musti menyebarkan ulang paket instalasi ke semua client (klo web kan tinggal upload ke host-server dan semua client otomatis akan keupdate) — menurut gw juga gag tepat, karna gw udah nemu solusinya utk itu..

gw juga keluhkan masalah yg (kalo di desktop itu) SANGAT-SANGAT-SANGAT-SANGAT-STANDAR sekali sedangkan di web itu bener2 butuh skill dan pengalaman coding yg expert. wewww…

Contoh kasus (yg sedang hangat2nya di ruang kerja gw nih) :
1. spin button
2. transaction-safe query
3. upload/browse
4. editable grid

dan gw belum sodorkan tema ‘dynamic chart/graph reporting’, Pivot Query, shortcut, print & print preview, sub-report, ato interaksi dengan device (yg kalo di desktop itu tinggal semudah drag-drop sesuatu dari component pallete)

masalah utama aplikasi web atau desktop itu sebenarnya terletak di PLATFORM (dimana web itu termasuk platform independen, sedangkan desktop = platform dependen –> termasuk Flex, Java, .NET/Mono yg “katanya” multiplatform itu sebenarnya platform dependen jg — karna mereka berjalan di atas virtual machine mereka sendiri)

nah, klo utk masalah ini, Aplikasi Web menang telak.

Jadi, pilih mana? desktop ato web ?
jujur, pertanyaan ini udah berkecamuk di hati gw sejak 4 tahun yg lalu.
dan sampai sekarang, gw masih blom bs temukan jawaban pastinya… ^_^

“Apakah ini hasil dari pendidikan IT yang instant di berbagai lembaga pendidikan IT?”

Ini pun sempat membuat saya sempat ragu pada awalnya, apakah akan memperdalam ilmu di Web programming karena munculnya teknologi-teknologi baru seperti Ruby dan FLEX. Sempat terpikir, stop learning PHP! and focus to new technology. Sama halnya bapak ini juga pernah bertanya demikian.

Teknologi tidak akan ada habisnya karena ini buah karya pikiran manusia, dengan keunggulan dan kelemahannya masing-masing sebagai trade-off nya, dan masing-masing komunitas bahasa dengan “agama” nya masing-masing.

Beberapa Plus nya desktop app menurut pendapat pribadi:

  • Tren desktop tidak secepat trend di web. Ada lebihnya ada kelemahannya.
  • User lebih bisa look n feel, walau ini mulai diadopsi oleh web.
  • Interaksi dengan device
  • Siklus yang lama (terkait poin 1)

Minusnya

  • Very hard to debug when it has become binaries. Coba siapa yang bisa debug dengan cepat kaskus salah akses memory address, bentrok dengan program lain, tidak kompatibelnya library.
  • Propietary, walau ada yang opensource, namun dominasinya masih kalah JAUH sama propietary
  • Karena propietary nya, kadang pembangunan aplikasi desktop disusupi muatan politis dan ekonomi yang bikin (at least saya) jengah!

Pergerakan teknologi pun mulai terlihat, voice over IP, TV over IP, IPTV (beda sama yg TV over IP lho), Mobile IP, meyakinkan saya bahwa, “the future still promising” di web technology. Desktop bagaimana? Arahnya desktop pun makin menyokong keperluan dari “the great collaboration era” ini.

Apapun teknologinya, portnya tetap : 80

Advertisements




Google Chrome vs Firefox

4 09 2008

Kemarin, Google meluncurkan produk baru mereka, sebuah browser bernama  Chrome. Bagi anda yang mungkin tidak sempat membaca bukunya komiknya tentang apa dan bagaiman Google Chrome ini,

saya coba simpulkan dan saya akan bandingkan dengan browser juara lainnya, Mozilla Firefox3.

Walau Google Chrome masih beta, namun tidak menyurutkan minat para internet addict untuk menjajal program karya terbaik perusahaan search engine ini. Termasuk saya 😀 .

Anda akan merasa sangat berbeda jika menggunakan Google Chrome saat browsing. Area pandang yang sangat luas, pas untuk mata kita, desain minimalis khas google dan menu, loh mana menunya ❓ Tidak ada teks menu ❗

Jangan tertipu dengan ukuran installer yang hanya 500-an kB, itu hanya starter nya, anda tetap diwajibkan mendownload melalui program starter tersebut. Fitur-fitur terbaik Chrome adalah:

  • Single Threaded Tab. Mungkin anda pernah mengalami ketika tab browser anda membuat browser menjadi crash ❓ Goggle punya jawabannya ❗ Mereka membuat arsitektur tab sebagai single thread, seolah-olah setiap tab adalah suatu individual broser, efeknya ketika salah satu tab tidak bekerja, tinggal meng enyahkan tab tersebut tanpa tab lain harus menjadi tumbal nya. Google juga menyertakan “task manager” tersendiri untuk menangani tab-tabnya. Anda dapat mengatur tag dengan drag n drop, mencopot tag menjadi sebuah window baru, menggabungkan tab dengan window Chrome lain. Luar biasa ❗
  • Boosted Javascript Engine. Javascript kini umum digunakan, terutama untuk web-web dengan komponen AJAX. Tapi ada kalanya javascript menjadi bumerang untuk browser dengan menjadi tersangka utama crash nya sebuah browser. Google menggunakan T8, sebuah grup riset yang meneliti tentang javascript, terutama masalah peningkatan performa javascript. Masalah utama pada javascript adalah alokasi dan fragmentasi memori. Grup T8 telah berhasil menciptakan mekanisme khusus agar memori yang terfragmen dapat dibuang dengan baik dan performa dapat ditingkatkan. Hasilnya diimplementasikan di dalam Chrome. Dibantu dengan arsitektur single threaded tab, ketika suatu tab ditutup, seluruh tetek-bengek tab tersebut pun ikut terbuang. Seperti: alokasi memori untuk javascript, plugins, dll. Mengakibatkan memory usage kita juga akan ikut turun.
  • Omni-bar. Sebenarnya, omni bar sudah dikenalkan oleh firefox3. Adalah sebuah address bar yang “pintar”. Address bar ini akan mencari ke dalam history dan bookmarks kita. Namun Google tidak berhenti dampai disitu. Akan ditampilkan juga website pertama dalam hasil pencarian mereka (I’m Feeling Lucky), hasil pencarian top 6, selain dua lainnya yang saya sebutkan sebelumnya.
  • Oneclick Bookmark, juga bukan fitur baru, namun perlu diakui, untuk masalah bookmark-mem bookmark Chrome masih tertinggal. Bookmark dapat dilakukan dengan hanya satu kali klik, namun kita akan sulit mengatur bookmark kita yang sudah ratusan. Manajemen bookmark’s toolbar nya pun masih kurang memuaskan.

Yang terbaik dari Mozilla Firefox:

  • Manajemen bookmark dan history firefox sangat baik, mudah digunakan dan lebih mendetail.
  • Kekuatan utama firefox adalah plugin dan themes. Jutaan pengguna firefox mungkin tidak memiliki firefox yang benar-benar sama satu dan lainnya. Ini urusan saya membutuhkan plugin ini dan saya suka theme ini sedang kamu tidak. Firefox bisa menujukkan karakter pengguna browser.
  • Kecepatan jelajah internet. Well, setidaknya ini yang saya rasakan. Mungkin ini lebih ke keadaan jaringan dan resource komputer masing-masing.
  • Popup blocker.
  • Detailed settings.
  • Web standards.

 

 Yang terburuk dari Firefox: 

  • Memory leak. Semakin lama anda menggunakan FF, maka alokasi memori anda semakin besar. Saya sendiri bahkan hingga menunjukkan angka 700-an MB pada process list task manager untuk satu aplikasi FF saja. Dan saat anda mengakses halaman dengan AJAX, CPU process anda bisa mendekati angka 100% dan saat itulah anda tersadar, browser anda membeku ❗ CRASH

Yang terbaik dari Chrome:

  • Performa Javascript, dan browser keseluruhan. Didukung arsitektur aplikasi yang baik, sehingga memory terjaga.
  • Tampilan yang sederhana, pandangan luas dan legaaaaa
  • Incognto window untuk browsing secara aman
  • Pemisahan plugins sebagai proses tersendiri, memungkinkan kita mematikan plugin tanpa menutup browser.

Yang buruk dari Chrome:

  • Bookmark. Manajemennya sangat sulit.
  • Addons. Nampaknya Google masih berfikir panjang tentang ini. Disatu sisi browser akan powerful dengan sendirinya karena disupport banyak aplikasi yang dibuat pihak ketiga, disisi lain performa mungkin akan menurun, karena addons memerlukan resource untuk digunakan.
  • Minim kustomisasi, tidak ada pilihan search engine seperti FF, tidak adanya theme juga sangat disayangkan.

Jagoan di film-film bisanya datang dan menang belakangan. Karena mereka mempunyai waktu untuk mempelajari kelemahan dan kelebihan musuh-musuhnya dankebanyakan berakhir dengan sang jagoan menang mutlak, kecuali film-film India, dimana sang jagoan menyerahkan diri ke polisi (how patriotic silly).

Ehemm…well, saat ini saya menggunakan FF dan Chrome secara bersamaan. Bagaimana dengan anda ❓ ada yang sudah mencoba ❓





Pilkada Bandung, sebuah pendapat anak teknik

12 08 2008

Kemarin (Minggu, 10/08/2008), Bandung mengadakan hajat demokrasi, pemilihan walikota bandung, menetukan siapa yang memimpin Bandung lima tahun kedepan. Saya sendiri, sebagai warganegara yang baik mengikutinya dengan sungguh-sungguh.

Bagaimana saya akan memilih salah satu dari mereka? saya kunjungi situs mereka (dasar geek).

Situs calon nomor 1, hingga saat ini masih up, cukup simple, namun kurang informatif. Saat melihat profil calon walikota, kita harus meng-klik 10 link untuk tahu siapa dan bagaimana Pak Dada Rosada. Dibuat menggunakan CMS Joomla.

Situs calon nomor 2, sangat disayangkan masih banyak broken link nya. seperti saat saya ingin melihat strategi dan program dan resume, saya dilarikan ke halaman index. Hmm kurang serius kah? padahal dari segi konten, Taufikurahman center (Taufikurahman media center kali ya) sudah bersusah payah membuat akun di beberapa situs jejaring sosial (multiply, wordpress, facebook, friendster, flickr, youtube), yang youtube, ternyata dilarikan ke index (lagi), yu mari. Ada yang terlewat, seharusnya punya akun di LinkedIn, jadi kita bisa tahu seberapa banyak relasi beliau, resume dan riwayat pekerjaannya, hihihihi.

Situs calon nomor 3. Satu-satunya dan pertama, calon independen maju untuk pilkada. Tidak seperti dua situs sebelumnya, untuk nama domain menggunakan nama keduanya, tidak hanya nama calon walikotanya saja, kesannya menenggelamkan tokoh cawalkot nya (karakter asinan). Desainnya simpel, dengan tipografi yang cukup jelas dibaca,tidak ada broken link (linknya tidak terlalu banyak). Kalau calon nomor 2 narsis, sibuk bercerita tentang dirinya, dan calon nomor satu tim media centernya lah yang narsis dan memproteksi alamat email dengan Javascript dengan alasan takut SPAM, calon nomor tiga blak-blakan menerima masukan dari siapa pun yang berkunjung ke websitenya. Ada yang tertarik “mencoba” ❓ hehehe. Tampak sia-sia karena websitenya terlihat seperti static page (file ekstensi .htm/ html), namun patut dicoba 😉 .

Seluruh situs menggunakan font Arial dengan resiko antara huruf  l (L kecil) dan I (i besar) akan terlihat sama, sama seperti blog saya ini 😛 . Padahal untuk informasi politik seperti ini ada baiknya tidak menimbulkan salah baca atau penalaran ganda yang dapat ditanggulangi dengan memilih font yang tepat.

Hmm…Kesimpulan saya..

Ketiga calon terkesan terburu-buru dalam membangun websitenya. Tidak ada yang eksists jauh sebelum pilkada. Kalau tidak broken link, informasinya tidak lengkap. Hmm apakah mereka akan mengerti bagaimana memajukan teknologi Bandung ❓

Anda memilih siapa ❓ Saya sudah punya plihan. Tenang.. nggak golput kok, tapi rahasia ya….





Launching another blog..

2 10 2007

Yep, as a web programmer (so far) i would to introduce my another blog,

http://phphanifa.wordpress.com phphanifa.wordpress.com

This blog dedicated for sharing my knowledge specially in PHP and web development related. Still, i used WP for the host and domain 😀 , licensed the contents, write some posts, add widgets 😉

Hope its helpfull and inspiring.

Thankyou.





Mencegah Browser Mengingat Password di Web Kita

16 08 2007

Anda membuat web-web berisi informasi sensitif seperti tarding, forex, e-shopping? Anda sudah menggunakan clean URL, https, captcha, honeypot, blackhole, dannnn segala macam pencegahan dalam berbagai layer aplikasi, namun masih saja jebol hanya karena kelalaian user yang awam, memilih opsi “remember password” pada browser di komputer yang digunakan secara bersama-sama, misal di warnet, atau bahkan di kantor dan institusi-institusi, baik pendidikan hingga pemerintahan (Angkatan Bersenjata, POLISI, Dinas Rahasia, dll). Cukup gawat bukan??

Lalu saya melihat situs Yahoo! Saat kita login pada Yahoo!mail misal, kita tidak di prompt! Mengapa?? Ternyata ada script trik tertentu, dengan menambahkan variabel

autocomplete=“off”

pada tag

<form>

Sehingga tag form kita menjadi

<form method=”post” action=”” autocomplete = “off” >

Mudah bukan??

Semua hal di dunia seperti dua muka mata uang, selalu ada kebalikannya. Demikian pun untuk script ini, anda dapat melakukan kebalikannya, Read the rest of this entry »





SocioTech

25 07 2007

Ada kejadian. Tidak bisa saya sebut (entah) lucu atau menjengkelkan.

Begini, di kampus kami jika anda ingin registrasi untuk semester baru, anda akan diminta menginputkan matakuliah yang akan anda ambil pada semester ini (web based…okeeey…) Setelah anda menginputkan, maka sistem akan mencetak semacam bon tagihan (well..) jumlah yang harus anda bayar untuk semester ini. Setelah itu kami harus berjalan kuranglebih seperempat kilo ke “Bank Cabang Kampus”, membayar, (dan) kembali ke tempat anda registrasi memberikan bukti kalau anda sudah setor dan anda akan diberikan kartu mahasiswa (dulu) dan kartu studi mahasiswa (sebenernya bukti udah bayar tagihan dan kadang berguna jika kita lupa kita kuliah apa semester ini dan menghindari salah masuk kelas).

Nah, untuk proses registrasi saja perlu olah raga ngantri dan jalan santai setengah kilo. Belum lagi kalo syaratnya kurang.

Yang lebih menggelikan, Read the rest of this entry »





Site reviews: expensr.com

14 07 2007

expensrexpensr is a free online personal finance application. expensr is currently in beta so let us know what kind of features you’d like to see!
The founders
expensr is founded by Reman Child and Shawn Gupta. As working professionals, they needed a fast and easy way to track their spending habits. After complaining to each other over lunch one day about not knowing where all their money went, they decided to do something about it. That’s how expensr was born. The founders still have trouble putting money away, but at least now they know where it all goes.
See the testiomonials

Expensr’s still very new, but it looks like a promising, stripped-down online alternative to wrestling with Quicken or Microsoft Money on your desktop.

Lifehacker.com

What Expensr has going for it is simplicity, speed, ease of use, and cost. It’s free. It looks like a solid solution for a young adult’s simple finances.

Webware.com (cnet)

Being able to import my statement and edit it was simple and fun. Being able to define my categories also made me feel like I was in control of the information rather than the other way round.

Helena, expensr user

Online personal finance application, manages your income and log your outcome for better management. Friendly GUI with AJAX support and its simplicity on design.